Slideshow

Pages

bus

Afdal, ST

perencanaan jalan,jembatan, irigasi, pengukuran, landcape dan gedung

Kolom Tutorial

Sabtu, 05 Februari 2011

MetodaPelaksanaan Irigasi

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Kegiatan

:............................

Pekerjaan

...............................

Lokasi

: KECAMATAN .........................


Tahun Anggaran

: 2010






Setelah mengikuti Aanswizjing kantor/lapangan serta mempelajari bestek/gambar dan berita acara Aanswizjing, maka kami mencoba membuat metoda pelaksanaan, karena salah satu syarat teknis untuk penawaran pekerjaan tersebut diatas. Untuk memenuhi persyaratan Usulan Teknis dalam penawaran yang kami ajukan, yang kami susun berdasarkan aturan-aturan pelaksanaan pekerjaan yang dipersyaratkan dalam Bestek, Gambar Kerja. Dalam Metoda Pelaksanaan Pekerjaan ini, kami menguraikan/menjelaskan langkah-langkah yang akan kami lakukan dalam melaksanakan atau penyelesaian pekerjan tersebut diatas. Meliputi tenaga kerja, material dan peralatan serta teknis pelaksanaan pembangunan dan waktu pengerjaannya selama maksimal 120 hari kalender.

Pada pekerjaan ini dituntut profesionalitas tenaga lapangan atau yang akan ditempatkan dilapangan harus benar-benar orang yang memahami baik teori maupun pengalaman lapangan, jadi untuk menjaga mutu dan step-step kerja diperlukan orang yang memang sudah pernah mempelajari menghitung, merencana, mengawasi dan melaksanakan pekerjaan irigasi, jadi apabila ada kendala dilapangan tim Direksi bisa berargumentasi antara data lapangan dengan data yang yang direncanakan dengan artian yang sehat yaitu untuk kelancaran dan mutu pekerjaan ini

Dalam metoda ini kami akan membuat tahapan uraian pekerjaan yaitu:

I. PEKERJAAN PERMULAAN

1. Pengukuran Ulang (Uizetten)

Pekerjaan Uitzetten / Pengukuran kembali untuk mendudukan bangunan Pekerjaan ini adalah pekerjaan pengukuran ulang guna menentukan posisi bangunan atau saluran yang akan dibangun serta sekaligus untuk membuat mutual check awal (MC-0), pengukuran ulang ini kami laksanakan pada minggu pertama melakukan pengukuran lapangan dengan memakai theodolitte dan waterpass sampai kami melakukan penggambaran untuk perhitungan gambar mutual check awal (MC-0), dan untuk gambar pelaksanaan sementara kami pakai fotocopy draf pengukuran untuk melakukan pemancangan lapangan. pengukuran selanjutnya dilakupan pada saat penudukan pasangan saluran dan galian yang mengacu pada kemiringan perencanaan. pelaksanaan pengukuran pada galian excavator dilakukan tiap-tiap 10meter mengacu pada elevasi perencanaan atau yang disetujui direksi pengawas.

2. Mobilisasi / demobilisasi

Sebelum memulai pekerjaan, atas persetujuan direksi terlebih dahulu dilakukan mobilisasi alat yang digunakan dalam pekerjaan seperti : Galian tanah berbatu dengan alat berat 1 X Pindah. Untuk demobilisasi atau pemulangan alat excavator ke besecam. Selain itu pada pekerjaan persiapan awal ini yang paling penting adalah mempelajari situasi lapangan dan melengkapi persyaratan yang sudah ditentukan dalam bestek, memulai pengukuran pada lokasi pekerjaan, yaitu berupa situasi, potongan memanjang, potongan melintang, yang dituangkan dalam gambar, termasuk gambar konstruksi, yang disesuaikan dengan lapangan, dan disertai dengan foto dokumentasi 0%, juga gambar – gambar kerja (shop Drawing ). Pada bagian – bagian konstruksi yang kurang jelas harus diperjelas dengan membuat gambar detailnya, serta menghitung kebutuhan material / bahan yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan tersebut. Bersamaan dengan ini mobilisasi dilaksanakan, dan tak kalah pentingnya adalah membuat MC 0 ( Mutual Chek Nol ) sehingga penempatan dana dapat dikontrol dengan baik dan terukur.

Terakhir apabila pekerjaan ini sudah selesai secara keseluruhan kita lakukan demobilisasi dan yang lebih penting lagi harus dibuat gambar aktualnya dan foto dokumentasi 100% yang diikuti dengan final quantity. Pembuatan foto dokumentasi selama pelaksanaan pekerjaan padakeadaan kondisi sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan setelah selesai pelaksanaan pekerjaan (0%, 50%, dan 100 %) pengambilan opname foto tersebut dilakukan satu titik, / posisi pengambilan tetap. Selain itu membuat laporan pelaksanaan pekerjaan harian, mingguan, dan bulanan yang meliputi : progres kemajuan pekerjaan, jumlah tenaga kerja, peralatan, dan bahan yang digunakan. Untuk dokumentasi ini dilakukan selama masa pekerjaaan hingga selesai pekerjaan. Kemudian perlu diadakan koordinasi dengan pihak proyek beserta masyarakat setempat (pemuka masyarkat stempat / perangkat nagari), guna dapat membicarakan masalah – masalah yang mungkin timbul apabila pekerjaan ini dimulai, baik menyangkut teknis maupun non teknis.



3. Rambahan Semar perdu (sedang)

Pekerjaan Rembahan Semak perdu merupakan pekerjaan pembersihan lapangan .yang mana pekerjaan ini meliputi dua tahap yang pertama "pekerjaan rembahan semak, rumput dan kayu yang dikhusus kan pada saluran irigasi dan intek (yang ada) sehinga tidak menghambat aliran saluran nantinya" dan tahap kedua "Pekerjaan ini meliputi penebangan pohan yang umurnya bulanan atau tahunan yang terdapat pada trase saluran irigasi yang dilaksanakan dan juga pada saluran tanah". untuk penumpukan bekas rembahan tersebut di buang sekitar 5meter dari trase saluran irigasi gunaya supaya tidak tertimbun oleh galian yang mengakibatkan tanah turun akibat pelapukan kayu nantinya.



II. PEKERJAAN SALURAN

1. Galian Tanah berbatu degan alat berat 1 X Pindah

Untuk pekerjaan galian Tanah Biasa dengan alat berat 1x pindah disini kami lakukan dengan memakai excavator yaitu menggali kedudukan pasangan batu kali. Setelah pemasangan bouplank sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan pemasangan bouplank ini beriring dengan pekerjaan Galian tanah berbatu dgn tenaga manusia kemudian dilaksanakan kegiatan menggali tanah untuk kedudukan bangunan dalam menggali tersebut harus disesuaikan dengan dimensi dan elevasi yang telah dipasang bouplank tadi dari hasil Uitzetten / Pengukuran kembali dengan ditandai patok berjarak per 25m, pengalian berdasarkan elevasi yang ditentukan dari hasil pengukuran dan gambar kerja. Supaya galian tidak terlalu dalam maka elevasi kedalaman dichek dengan alat ukur waterpass sehingah sesuai dengan I yang di dalam gambar kerja.

Material yang cocok untuk timbunan harus ditumpuk secara terpisah dari material yang akan dibuang, dan material yang baik harus dipisahkan pada saat penggalian dan ditempatkan pada lokasi yang direncanakan, seperti yang ditentukan oleh Direksi. Tanah galian yang cocok untuk timbunan setelah dikeringkan, tetapi terlalu basah untuk pemadatan langsung dari penggalian, maka harus ditempatkan sementara dengan ditumpuk, sesuai dengan petunjuk Direksi, hingga kandungan airnya berkurang dan memenuhi syarat untuk tanah timbunan yang mempunyai daya dukung yang diinginkan, atau dengan persetujuan Direksi untuk pengeringan material basah tersebut. Diatas lokasi timbunan hingga kandungan airnya berkurang mencapai kadar air optimum untuk pemadatan.



2. Galian tanah berbatu dgn tenaga manusia

Untuk pekerjaan galian Tanah berbatu lakukan dengan memakai tenaga manusia (manual) yaitu menggali kedudukan Pasangan. Setelah pemasangan bouplank sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan pemasangan bouplank ini beriring dengan pekerjaan galian tanah biasa kemudian dilaksanakan kegiatan menggali tanah untuk kedudukan bangunan dalam menggali tersebut harus disesuaikan dengan dimensi dan elevasi yang telah dipasang bouplank tadi, Material yang cocok untuk timbunan harus ditumpuk secara terpisah dari material yang akan dibuang, dan material yang baik harus dipisahkan pada saat penggalian dan ditempatkan pada lokasi yang direncanakan, seperti yang ditentukan oleh Direksi. Tanah galian yang cocok untuk timbunan setelah dikeringkan, tetapi terlalu basah untuk pemadatan langsung dari penggalian, maka harus ditempatkan sementara dengan ditumpuk, sesuai dengan petunjuk Direksi, hingga kandungan airnya berkurang dan memenuhi syarat untuk tanah timbunan yang mempunyai daya dukung yang diinginkan, atau dengan persetujuan Direksi untuk pengeringan material basah tersebut. Diatas lokasi timbunan hingga kandungan airnya berkurang mencapai kadar air optimum untuk pemadatan.

Galian tanah berbatu dgn tenaga manusia

3. Pasangan batu kali SP 1 : 4

Pasangan batu kali disini adalah untuk membuat Saluran dan Bangunan Air, adapun ketentuan yang akan kami ikuti disini secara garis besar saja diantaranya :

a. Adukan untuk spesi digunakan campuran 1 PC berbanding 4 Pasir jadi didalam pengadukan harus benar-benar merata aduknya sehingga tidak terjadi kelemahan disuasi sisi spesi nantinya. Adukan yang akan dipasang harus mendapat persetujuan Direksi dan dibuatkan bak takaran agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan semen.

b. Air yang digunakan harus air yang bersih dan tidak mengandung zat-zat yang merusak ikatan semen.

c. Adukan harus diaduk sebanyak yang diperlukan sehingga tidak terjadi adukan terletak selama + 30 menit (adukan yang sudah terletak + 30 menit tidak dibenarkan memakainya).

Suling-suling perlu dibuatkan terutama untuk pekerjaan yang desakan air tanahnya tinggi sehingga pada masa-masa tekanan air tanah bertambah keras tidak akan merusak konstruksi dan airnya akan mencari celah keluar lewat suling-suling tersebut. Suling-suling dibuat dari pipa PVC ø 2 “ dan paling tidak 1 buah tiap radius 2 m dan dibelakangnya diberi saringan dari ijuk, kerikil, dan batu-batu kecil. Pekerjaan ini disesuaikan dengan bestek dan spesifikasi teknisnya atau petunjuk dari Direksi nantinya.

Pertama sekali setelah pekerjaan galian dilakukan oleh si penggali lalu kami persiapkan peralatan tukang yang termasuk kotak adukan dan kotak takaran yang diminta kepada direksi lalu kami membuatkan request atau izin untuk melaksanakan pekerjaan pasangan yang kami ajukan kepada pengawas lapangan dan setelah dimensi galian oke oleh direksi dan izin pekerjaan pasangan ditanda tangani kami langsung melaksanakan pekerjaan pasangan batu kali dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

4. Plesteran Camp. 1:3

Plesteran dalam hal ini adalah pekerjaan yang merupakan estetikanya bangunan sehingga pada waktu pelaksanaannya harus dikerjakan sedemikian rupa dan sesuai dengan campuran yang telah ditentukan dalam Spesifikasi Teknisnya dan harus terdapat kekentalan yang dimaksud.

Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan permukaan yang akan diplester harus benar-benar bersih dan tidak ada penghalang ikatan pasangan batu dengan plesteran, disamping kekuatan plesteran juga merupakan pekerjaan finishing dari pasangan batu jadi kerapian dan kebersihan juga harus diperhatikan sebab jelek bagusnya kerja seseorang bisa juga dinilai dari hasil akhirnya.



5. Cor beton campuran 1:2:3

Persyaratan kualitas untuk semen, pasir, kerikil dan air pemeriksaan secara visual sebagai berikut :

a. Semen

- Kantong dalam keadaan utuh, tertutup dan baik

- Waktu dibuka untuk diaduk harus dalam keadaan baik tidak ada yang membatu.

b. Agregat

Agregat adalah bahan yang keras, tahan lama, bebas dari mineral-mineral, diproduksi secara alami atau dengan mesin dan tidak boleh berisi zat-zat yang dapat melemahkan kualitas beton dan tulangannya.

1. Agregat Halus

Harus bersih dari Lumpur atau bahan-bahan organic lainnya. Dapat dilihat dengan mata dari warna (abu-abu tua kehitam-hitaman )

2. Agregat Kasar

Berupa kerikil dari sungai berdiameter 2 – 3 cm atau terdiri dari pecahan batu yang padat, tidak berkulit dan harus bersih, keras dan tahan lama bebas dari bahan-bahan yang merusak mutu beton dan tulangannya.

c. Air

Air yang digunakan begitu juga tidak boleh mengandung unsur garam, asam dan zat-zat yang mengakibatkan cacat mutu pada beton dan tulangannya.

Mutu dan Rencana Campuran Beton

a. Komposisi

Beton harus terdiri dari adukan semen, air, agregat dan kasar, dalam perbandingan seperti yang tercantum dalam Bill Of Quantitiesdan disetujui oleh Direksi.

Penakaran

Semua material harus ditakar dengan alat penakar sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perbandingan campuran yang dipersyaratkan. Kontraktor harus menyediakan alat penakar yang disetujui Direksi dan harus memelihara serta mengoperasikan alat seperti yang diperlukan agar secara tepat mengontrol dan menentukan jumlah dari masing-masing bahan yang dicampurkan, sesuai dengan petunjuk Direksi. Peralatan harus mampu memproduksi beton sebanyak (1) satu sehingga (5) lima meter kubik atau lebih perjam secara keseluruhan dengan mencampurkan agregat, semen, dan air menjadi suatu campuran yang merata tanpa pemisahan-pemisahan. Juga mampu mengimbangi perubahan-perubahan kadarair dari agregat, serta merubah berat material-material yang ikut tercakup.

Jumlah masing-masing bahan yang membentuk beton tersebut dapat ditentukan dengan timbangan kecuali jumlah air yang diukur dengan takaran. Meskipun demikian material beton dapat juga diukur secara volume, bila mana disetujui oleh Direksi.

Kantor juga harus menyediakan penguji berat yang standard dan peralatan lain yang diperlukan untuk mengecek operasi dan tiap-tiap skala pengukuran pengaduk tersebut, serta melakukan pengujian periodik terhadap perubahan harga pengukuran dalam pekerjaan-pekerjaan adukan.

Pengadukan

Pengadukan dapat mempergunakan cangkul atau sekop dengan tenaga manusia yang harus mampu atau dapat mengaduk semen, agregat, air dan sehingga menjadi satu adukan yang sempurna.

Pengangkutan

Beton harus diangkut dari pengaduk ketempat pengecoran secepatnya. Tinggi jatuh pengecoran tidak boleh lebih dari 1 m kecuali disediakan peralatan yang memenuhi syarat untuk menghindari pemisahan campuran. Peralatan seperti ember-ember dan pompa-pompa yang boleh dipakai untuk mengangkut beton harus berukuran, bentuk dan kondisi sedemikian rupa untuk menjamin penyediaan beton secara berimbang ditempat pengangkutan. Semua metoda yang digunakan harus disetujui oleh Direksi. Tanpa memandang metoda pengangkutan, beton harus selalu dilindungi dari temperatur yang ekstrim tinggi dengan memberi peneduh atau cara lain yang patut dan memenuhi syarat.

Pengecoran

1. Dilarang Pekerjaan Bila Cuaca Buruk

Pengecoran tidak boleh dilaksanakan ditempat terbuka selama ada badai atau hujan lebat. Semua material dan peralatan pengecoran harus dilindungi terhadap pengaruh hujan lebat dan badai.

2. Dilarang Menggunakan Material yang Mengeras Sebagian

Semua beton dan mortel semen harus dicor dan dipadatkan dengan cara digetar dalam waktu 30 menit setelah pencampuran, dan tidak boleh menggunakan material yang mengeras sebagian dalam pekerjaan.

Pengecoran beton harus dibuat sedemikian rupa hingga penempatan dan penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran. Adukan beton dicor lapis demi lapisdengan ketebalan tertentu, berurutan mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan dibawahnya, adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan alat penggetar ( vibrator). Pengecoran tidak boleh dimulai sebelum semua pekerjaan pembuatan bekesting, penulangan, instalasi bagian-bagian dan alat yang akan terbenam serta persiapan permukaan pondasi-pondasi atau beton diperiksa dan disetujui oleh Direksi. Pengecoran tidak diperbolehkan selama hujan lebat atau keadaan cuaca lainnya yang dapat memberi efek yang menurunkan kualitas beton. Pengecoran dapat dimulai setelah mendapat ijin tertulis dari Direksi Pekerjaan.

Dalam pengecoran beton bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi pemisahan butiran. Apabila bentuk tulangan pada dasar cetakan cukup rapat, dicor terlebih dahulu lapisan selimut beton setebal 3 cm, dengan spesi yang sama dengan yang dibutuhkan oleh beton diatasnya. Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang ditentukan oleh Direksi, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit telah keluar dari mesin pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi.

Beton jangan dicor didalam atau pada aliran air kecuali jika ditentukan atau disetujui sebelumnya. Air yang menggumpal selama pengecoran harus segera dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicorselama lebih dari 30 menit, kecuali jika ada kontruksi sambungan yang akan ditentukan kemudian. Jika pelaksanaan pengecoran dihentikan , lokasi sambungan harus ditempatkan pada posisi yang benar sacara vertical maupun horizontal ,dengan permukaan di buat kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan membentuk ikatan sambungan beton berikutnya , seperti yang diinginkan oleh Direksi .

Sebelum pengecoran berakhir, permukaan beton harus dibuat kasar atau disambungkan untuk menyingkap agregat . Permukan beton harus tetap lembab dan dilindungi dengan mortel semen (perbandingan berat) 1:2, setebal 1 cm. Semua biaya pengasaran permukaan dan perkerjan yang terkait lainya dianggap sudah tercakup didalam harga satuan pekerjaan beton didalam Rencana Anggaran Biaya.

Beton harus dicor posisi dan urutan urutan seperti yang ditunjukan dalam gambar, atau atas petunjuk Direksi. Beton yang dicor ditempatkan langsung pada cetakanya sedemikian rupa untuk menghindari pemisahan butiran dan penggesaran tulangan beton, atau bagiian bagian yang tertanam, serta membentuk lapisan – lapisan yang tidak lebih dari 40 cm padat.

Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai sambungan ditentukan pada gambar atau menurut petunujuk Direksi.

Beton tidak boleh diangkut dengan peluncur atau dijatuhkan kereta dorong lebih tinggi dari 1,5 m kecuali jika diijinkan oleh Dierksi untuk menjatuhkan ketempat penampungan sementara dan kemudian diambil lagi dengan sekop sebelum dicorkan. Pengecoran beton tumbuk/lantai kerja dikerjakan pada urutan sebelumnya atau mengikuti petunjuk Direksi dan harus dikerjakan secara terus menerus sampai dengan selesai. Bila perlu Kontraktor harus bekerja lembur untuk mencapai target tersebut. Kontraktor harus mempertimbangkan masalah ini kedalam harga satuan harga Rencana Anggaran Biaya.

Pada saat dicor, beton tidak boleh memiliki temperature lebih dari 32 derajat calcius, jika cuaca sangat panas melebihi 32 derajat celcius, kontraktor harus melakukan usaha agar temperature yang diinginkan tercapai, seperti mendinginkan agregat dan melakukan pengecoran di malan hari. Kontraktor tidak berhak menurut biaya tambahan untuk pekerjaan tersebut.

Perawatan dan perlindungan

Beton yang masih segar harus terlindungi dari sinar matahari, hujan atau air yang mengalir, reaksi bahan kimia dan getaran-getaran sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari, hal ini dapat dilakukan dengan :

• Rawatan dengan air yaitu dengan memercikkan air secara terus menerus atau digenangi dengan air.

• Menutupnya dengan suatu lapisan penyerap (karung, goni, kantung semen) yang selalu dijaga supaya basah konstan.

Semua permukaan beton yang akan dipengaruhi air deras atau benturan gelombang harus betul-betul dilindungi dari kemungkinan kerusakan selama periode pengerasan, dan semua permukaan beton yang belum mencapai kekerasan yang diharapkan harus ditutup sesuai dengan petunjuk Direksi.

Sambungan Konstruksi

Lokasi sambungan kontruksi beton harus disetujui Direksi, dan berdasrkan ketentuan-ketentuan berikut:

Sambungan kontruksi adalah kontruksi yang kaku, sedemikianrupa hingga beton yang dicor berikutnya tidak dapat digabungkan secara integral dengan struktur yang dicor sebelumnya. Permukaan sambungan kontruksi segera dibersihkan sebelum pengecoran beton baru atau mortel. Pembersihan permukaan meliputi pembersihan semua kotoran, sisa material yang lepas, sisa-sisa beton, pelapisan, pasir dan lain-lainnya.

Permukaan sambungan kontruksi harus dicuci sebelum pengecoran beton baru. Sesudah permukaan dibersihkan dan basahi, permukaan yang tidak membentuk sambungan kontruksi, harus ditutup dengan lapisan mortel semen setebal 1 cm. Mortel semen harus mempunyai komposisi yang sama dengan campuran beton dibawahnya, kecuali ditentukan lain oleh Direksi.

Sambungan kontruksi kedap air, harus memakai water stop seperti yang ditentukan dalam gambar atau ditentukan lain oleh Direksi.

Ketika beton diatas permukaan beton yang sudah terpasang, permukaannya harus dikerjakan sebagai berikut:

• Beton yang dicor belum lebih dari 4 jam akan mempunyai suatu lapisan busa beton pada permukaannya dengan material lepas dan berlubang-lubang di bawahnya, yang harus dibuang dengan hati-hati dengan cara menyikatnya secara perlahan-lahan tanpa merusak tubuh dari beton itu. Kemudian beton yang baru harus secepatnya dituangkan.

• Beton yang dicorkan telah lebih dari 4 jam tetapi tidak lebih dari 3 ahri akan mempunyai suatu lapisan busa beton pada permukaannya dengan material lepas dan berlubang-lubang dibawahnya, yang harus dibuang dengan cara seperti diatas. Permukaan dibawahnya itu harus dicuci secara merata dengan air bersih. Segera sebelum dicorkan beton yang besar, permukaannya harus dilapisi dengan spesi semen dengan ketebalan 1 cm yang perbandingancampurannya yang sama dengan beton yang akan dicorkan ditempat itu.

• Beton yang dicirkan sudah lebih dari 3 hari harus ditakik supaya kelihatan permukaan yang homogen dan segar secra keseluruhan tanpa retak-retak. Segera sebelum beton segar dicorkan, spesi semen dengan konsisten seperti susu kental harus dituangkan pada permukaan yang telah disiapkan.

Untuk pekerjaan beton kami mengacu kepada spesifikasi teknik dan petunjuk dari Direksi nantinya



6. Besi Tulangan

Besi beton yang digunakan mutu U-24, dan seterusnya tergantung yang ditentukan. Yang penting harus dinyatakan oleh tes Laboratorium resmi dan sah. Besi harus bersih dan tidak mengandung minyak / lemak, asam, alkali dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih. Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan NI-2 (PBI-1971). Pabrikasi besi beton berdasarkan ukuran gambar kerja dan direksi pengawas lapangan.



7. Bekisting

Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan/yang diperlukan dalam gambar. Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan-perkuatan cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan tetap pada kedudukan selama pengecoran. Acuan harus rapat dan tidak bocor, permukaannya, bebas dari kotoran-kotoran seperti serbuk gergaji, potongan-potongan kayu, tanah dan sebagainya, sebelum pengecoran dilakukan dan harus mudah dibongkar tanpa merusak permukan beton. Tiang-tiang acuan harus diatas tiang papan untuk memudahkan memindahkan perletakan, tiang-tiang dari dolken Ø 8-10 cm, tiang-tiang satu dengan lain harus diikat dengan palang papan/balok secara menyilang. Pembukaan acuan baru dibuka setelah memenuhi syarat-syarat yang dicantumkan dalam PBI-1971 dan SNI.T-15-1991-03.



III. PEKERJAAN TEMBOK PENAHAN

1. Galian tanah berbatu dgn tenaga manusia

Untuk pekerjaan galian Tanah berbatu lakukan dengan memakai tenaga manusia (manual) yaitu menggali kedudukan Pasangan. Setelah pemasangan bouplank sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan pemasangan bouplank ini beriring dengan pekerjaan galian tanah biasa kemudian dilaksanakan kegiatan menggali tanah untuk kedudukan bangunan dalam menggali tersebut harus disesuaikan dengan dimensi dan elevasi yang telah dipasang bouplank tadi, Material yang cocok untuk timbunan harus ditumpuk secara terpisah dari material yang akan dibuang, dan material yang baik harus dipisahkan pada saat penggalian dan ditempatkan pada lokasi yang direncanakan, seperti yang ditentukan oleh Direksi. Tanah galian yang cocok untuk timbunan setelah dikeringkan, tetapi terlalu basah untuk pemadatan langsung dari penggalian, maka harus ditempatkan sementara dengan ditumpuk, sesuai dengan petunjuk Direksi, hingga kandungan airnya berkurang dan memenuhi syarat untuk tanah timbunan yang mempunyai daya dukung yang diinginkan, atau dengan persetujuan Direksi untuk pengeringan material basah tersebut. Diatas lokasi timbunan hingga kandungan airnya berkurang mencapai kadar air optimum untuk pemadatan.

Galian tanah berbatu dgn tenaga manusia



3. Pasangan batu kali SP 1 : 4

Pasangan batu kali disini adalah untuk membuat Saluran dan Bangunan Air, adapun ketentuan yang akan kami ikuti disini secara garis besar saja diantaranya :

a. Adukan untuk spesi digunakan campuran 1 PC berbanding 4 Pasir jadi didalam pengadukan harus benar-benar merata aduknya sehingga tidak terjadi kelemahan disuasi sisi spesi nantinya. Adukan yang akan dipasang harus mendapat persetujuan Direksi dan dibuatkan bak takaran agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan semen.

b. Air yang digunakan harus air yang bersih dan tidak mengandung zat-zat yang merusak ikatan semen.

c. Adukan harus diaduk sebanyak yang diperlukan sehingga tidak terjadi adukan terletak selama + 30 menit (adukan yang sudah terletak + 30 menit tidak dibenarkan memakainya).

Suling-suling perlu dibuatkan terutama untuk pekerjaan yang desakan air tanahnya tinggi sehingga pada masa-masa tekanan air tanah bertambah keras tidak akan merusak konstruksi dan airnya akan mencari celah keluar lewat suling-suling tersebut. Suling-suling dibuat dari pipa PVC ø 2 “ dan paling tidak 1 buah tiap radius 2 m dan dibelakangnya diberi saringan dari ijuk, kerikil, dan batu-batu kecil. Pekerjaan ini disesuaikan dengan bestek dan spesifikasi teknisnya atau petunjuk dari Direksi nantinya.

Pertama sekali setelah pekerjaan galian dilakukan oleh si penggali lalu kami persiapkan peralatan tukang yang termasuk kotak adukan dan kotak takaran yang diminta kepada direksi lalu kami membuatkan request atau izin untuk melaksanakan pekerjaan pasangan yang kami ajukan kepada pengawas lapangan dan setelah dimensi galian oke oleh direksi dan izin pekerjaan pasangan ditanda tangani kami langsung melaksanakan pekerjaan pasangan batu kali dengan spesifikasi yang telah ditentukan.



4. Plesteran Camp. 1:3

Plesteran dalam hal ini adalah pekerjaan yang merupakan estetikanya bangunan sehingga pada waktu pelaksanaannya harus dikerjakan sedemikian rupa dan sesuai dengan campuran yang telah ditentukan dalam Spesifikasi Teknisnya dan harus terdapat kekentalan yang dimaksud.

Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan permukaan yang akan diplester harus benar-benar bersih dan tidak ada penghalang ikatan pasangan batu dengan plesteran, disamping kekuatan plesteran juga merupakan pekerjaan finishing dari pasangan batu jadi kerapian dan kebersihan juga harus diperhatikan sebab jelek bagusnya kerja seseorang bisa juga dinilai dari hasil akhirnya.



5. Timbunan tanah dipadat/ratakan

Pekerjaan yang dilaksanakan disini adalah pekerjaan timbunan tanah dibelakang pasangan dengan tanah bekas galian dipadat dan diratakan.

Sebelum menempatkan material timbunan diatas pondasi atau diatas timbunan, seluruh daerah yang akan menerima beban material timbunan harus dibasahi secara optimum diratakan. Pemadatan timbunan dapat dilaksanakan dengan alat pemadat / Stamper. Sebelum pemadatan material harus dihampar maksimal setebal 25 cm lalu dipadatkan dalam keadaan kadar air yang baik dan cukup baik pengaruhnya dalam pemadatan, kemudian setelah padat lapis pertama disiram dengan air langsung dihampar lapis kedua setebal maksimal 25 cm juga lalu dipadatkan sampai kepadatan maksimum atau sesuai dengan spesifikasi, begitulah seterusnya sampai timbunan selesai.

a. Bahan-Bahan Timbunan

Bahan-bahan timbunan harus tanah kohesif dengan batas cairnya disesuaikan dengan spesifikasi timbunan sehingga akan membentuk massa yang relatif kedap air setelah pemadatan. Bilamana kesesuaian suatu bahan diragukan, Direksi dapat meminta diadakannya tes-tes untuk menentukan batas-batas Atterberg dari pada bahan sebelum menentukan kesesuaiannya.

Timbunan tanah disini adalah timbunan tanah dibelakang pasangan jadi bahan galian yang sesuai dengan spesifikasi timbunan harus disisihkan pada waktu menggali kemudian ditumpuk atau jika tanahnya basah dikeringkan terlebih dahulu pada suatu tempat.

Untuk menimbun kami rencanakan dipengujung pekerjaan pada pos masing-masing, kalau untuk pekerjaan saluran timbunannya dibentuk seperti tanggul dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi teknisnya.

solsel , 26 April 2010

0 komentar:

Poskan Komentar